opto lihat situs sponsor

Jumat, 15 Desember 2017  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Cahaya: Pengukur Waktu yang Lebih Akurat
Dody Hidayat

Royal Swedish Academy of Science, yang bermarkas di Stockholm, Swedia, Selasa (10/4) mengumumkan tiga ilmuwan bidang optik sebagai peraih Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 2005.

Royal Swedish Academy of Science, yang bermarkas di Stockholm, Swedia, Selasa (10/4) mengumumkan tiga ilmuwan bidang optik sebagai peraih Hadiah Nobel Bidang Fisika pada 2005. Hadiah Nobel senilai 10 juta krona Swedia (sekitar Rp 1,3 miliar) itu dibagi tiga. Setengahnya untuk Roy J. Glauber, ilmuwan Harvard University di Cambridge, Amerika Serikat, untuk penemuan teori kuantum dari koheren optik.

Sedangkan separuh lainnya dibagi rata (masing-masing seperempat bagian) kepada John L. Hall dari University of Colorado dan National Institute of Standards and Technology di Boulder, Colorado, AS, dan Theodor W. Hansch, ilmuwan Max-Planck-Institut fur Quantenoptik, Garching, dan Ludwig-Maximilians-Universitat di Munich, Jerman. Keduanya dianggap berkontribusi besar dalam pengembangan spektroskopi presisi berbasis laser, termasuk teknik frequency comb optis.

Glauber, 80 tahun, adalah pelopor penerapan fisika kuantum pada fenomena optik. Dalam makalah penelitian yang dipublikasikannya pada 1963, ia mengembangkan sebuah metode yang menggunakan pengukuran elektromagnetik untuk memahami pengamatan optik. Ia dapat menjelaskan perbedaan mendasar antara sumber-sumber panas dari cahaya, misalnya bola lampu (yang memiliki frekuensi dan fase campuran), dan laser-laser yang memberikan sebuah frekuensi dan fase khusus.

Sementara itu, Hall, 71 tahun, dan Hansch, 63 tahun, memberi sumbangan penting, yakni membuat pengukuran frekuensi menjadi mungkin. Pengukuran itu memiliki tingkat akurasi mencapai 15 digit.

Kini sinar-sinar laser yang memiliki warna yang ekstrem tajam itu dapat dikonstruksi. Sedangkan dengan teknik yang dikembangkan Hall dan Hansch, yakni teknik frequency comb, pembacaan yang akurat dapat dibuat dengan sinar semua warna.

Teknik pengukuran berpresisi tinggi ini memungkinkan dilakukannya beragam penelitian, misalnya kestabilan dari konstanta alamiah sepanjang waktu dan mengembangkan jam super akurat pengganti jam atom, yang dipakai saat ini, atau meningkatkan akurasi teknologi global positioning system (GPS).

Glauber lahir di New York pada 1934. Gelar BS diraihnya pada 1947 dan PhD pada 1949 dari Harvard. Sejak 1976, dia menjadi mallinckrodt professor of physics di almamaternya.

Hall, yang lahir di Denver pada 1934, meraih gelar PhD dalam ilmu fisika pada 1961 dari Carnegie Institute of Technology, Pittsburgh. Ia kini menjadi saintis senior di National Institute of Standards and Technology dan fellow di Joint Institute for Laboratory Astrophysics (kini JILA).

Hansch lahir di Heidelberg pada 30 Oktober 1941. Gelar PhD diraihnya pada 1969 dari University of Heidelberg. Kini dia menjabat Direktur Max-Planck-Institut fur Quantenoptik, di Garching, dan profesor fisika di Ludwig-Maximilians-Universitat, Munich.

Sumber : Koran Tempo (5 Oktober 2005)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 2 Desember 2005

 

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI