opto lihat situs sponsor

Jumat, 15 Desember 2017  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

10 Tahun Sinar untuk Pengobatan : Laser, Pisau Sinar Pemotong Retina Mata
Sulung Prasetyo

Mengobati penyakit mata dengan laser? Mungkin itu pertanyaan konyol yang keluar dari mulut, sementara raut wajah menyeringai ngeri. Membayangkan mata kita diobok-obok dengan sinar yang katanya mematikan itu. Tapi, siapa sangka kalau ternyata kini teknologi laser sudah 10 tahun dipergunakan untuk pengobatan mata, semenjak diperkenalkan awal tahun 90-an lalu.

Sebenarnya tak bisa disalahkan juga kalau banyak orang jerih bila mendengar kata laser. Terbayang tubuh yang bolong-bolong bila tertembak sinar tersebut. Bahkan di film StarWars, sinar ini dijadikan pedang untuk memotong tubuh lawannya.

Laser sebenarnya singkatan dari kata Light Amplification Stimulated Emission Radiation. Teori mengenai sinar ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar fisika terkenal, Dr. Albert Einstein pada tahun 1920. Dan baru setelah 40 tahun kemudian teori tersebut dipraktikkan. Dr. Mainamm dari Jerman yang akhirnya dikatakan berhasil untuk pertama kalinya mengarahkan sinar tersebut dalam sebuah lingkup garis. Yaitu dengan mengurung sebaran cahaya tersebut dengan menggunakan batu delima (ruby). Oleh sebab itu laser yang pertama kali dikonsentrasikan itu disebut laser ruby.

Setelah penemuan konsentrasi laser oleh ruby tersebut, maka sinar ajaib ini mulai diarahkan untuk berbagai kegunaan, termasuk untuk kesehatan. Laser untuk pengobatan sebenarnya baru dimulai semenjak awal 90-an lalu. Termasuk di dalamnya untuk pengobatan mata, selain juga untuk pengobatan penyakit kulit, perut, gigi dan pembedahan. Khusus untuk pembedahan. Sinar laser lebih disukai karena tidak menimbulkan luka dalam, dan berarti meminimalkan pendarahan. Meskipun harus diakui hingga kini, paramedis yang ingin memakai peralatan ini haruslah memiliki tingkat keahlian tinggi.

Kontroversi

Sementara kecanggihan alat laser untuk pengobatan mata makin maju. Hingga kini masih banyak kontroversi mengenai kemanjuran pengobatan tersebut. Prof. Ian Constable, Managing Director Lions Eye Institute dari Australia, menyatakan bahwa bedah laser untuk mata seperti ini memiliki tingkat keberhasilan hingga 90 persen banyaknya. ?Sangat sedikit orang yang mengeluh kembali setelah mengalami operasi ini,? ucapnya di Jakarta, Rabu (16/5) kemarin.

Hal senada juga dikuatkan oleh Prof. Douglas D. Koch, M.D, mantan President of American Society of Cataract and Refractive Surgery. Menurutnya pengobatan mata dengan menggunakan laser secara umum selalu menunjukkan hasil yang positif. ?Teknologi pengobatan mata dengan laser hingga terakhir ini sudah mencapai taraf kesembuhan hingga 20/20. Yang berarti mendekati sempurna dalam standar penyembuhan penyakit mata,? imbuhnya dalam kesempatan yang sama.

Namun berbeda dengan pendapat Dr. David Schanzlin, dari Shiley Eye Center di University of California, San Diego. Ia yang merupakan seorang inovator dan pemimpin terkenal di dunia internasional dalam bidang operasi pembiasan. Ia telah melacak efektivitas operasi pembedahan mata dengan sinar laser sejak pengenalan prosedur ini ke pasar Amerika Utara hampir satu dekade yang lalu. Menurutnya, sebenarnya prosedur ini tidak cocok untuk beberapa pasien tertentu. ?Dan ribuan orang berisiko mendapatkan suatu masalah serius, yaitu pembengkakan pada kornea mata,? ujarnya. Hal itu mengakibatkan pandangan mata menjadi sangat kabur. Hingga mengalami peningkatan rabun jauh dan astigmatisme (efek karena kornea mata tidak bulat.

Ahli bedah ini juga menyarankan agar para pasien meminta apa yang disebut sebuah tes topografi untuk memastikan bahwa korneanya tidak terlalu tipis bagi prosedur ini. Schazlin berpendapat bahwa pengujian tersebut seharusnya standar. Pengujian-pengujian lain yang direkomendasikan antara lain pembesaran bola mata untuk memeriksa bagian belakang mata dan pengukuran mata serta ketebalan kornea. Untuk pengujian terakhir, sang dokter seharusnya memberikan waktu cukup lama bagi mata untuk beradaptasi tanpa memakai lensa kontak bagi suatu pengukuran yang akurat.

Mahal

Masalah lain yang rasanya masih menjadi ganjalan adalah masih mahalnya biaya operasi untuk operasi laser ini. Dari keterangan yang diberikan Dr. Sjakon G. Tahija, di Klinik Mata Nusantara, yang baru diresmikan Rabu (16/5) lalu, menyebutkan bahwa biaya untuk satu kali operasi dengan menggunakan Lasik mencapai Rp. 15.600.000,-. ?Ini masih lebih murah dibandingkan dengan pelayanan serupa di klinik yang lain,? tambahnya. Dan bila dibandingkan dengan negara lain yang juga menyelenggarakan fasilitas serupa, biaya yang dikeluarkan klinik ini memang belum ada apa-apanya. Bahkan sebuah situs di internet memberitakan bahwa harga operasi mata dengan laser bisa mencapai AS$ 15.000,- sebiji mata.

Sumber : Sinar Harapan (17 Mei 200x)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 3 Maret 2005

 

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI