opto lihat situs sponsor

Minggu, 20 Agustus 2017  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Tak Sekadar Memburu Dolar
Hidayat Gunadi

GAJI menggiurkan plus fasilitas memadai jadi daya tarik untuk bekerja di negeri seberang. Ruang untuk mengekspresikan kabisa pun tersedia seluas-luasnya. Beberapa cendekiawan yang "hengkang" menuturkan alasan kepergiannya.

Dr. Nelson Tansu, 26 tahun : Leluasa Menimba Ilmu

LINUS Pauling kesohor sebagai ilmuan jempolan. Ia meraih dua Hadiah Nobel, yakni bidang kimia tahun 1954 dan Nobel Perdamaian tahun 1962. Pauling juga menyandang predikat asisten profesor, sebutan bagi profesor baru di Amerika Serikat, pada usia muda: 26 tahun.

Nelson Tansu, lajang asal Medan, belum berbicara di tingkat Nobel. Tapi, ia memecahkan rekor Pauling. Nelson dipanggil profesor pada usia 25 tahun. "Saya bukannya mau membandingkan diri dengan Pauling, melainkan ingin menunjukkan bahwa sangat sedikit orang yang jadi profesor di universitas bagus di Amerika Serikat pada usia 25 tahun," tutur Nelson, pemuda kelahiran 20 Oktober 1977 yang kini menjadi profesor pada Departemen Teknik Elektro dan Komputer Universitas Lehigh, Pennsylvania.

Toh, rekor Nelson bukan yang paling mengilat. Chang-Lin Tien, bekas Rektor University of California-Berkeley, dulu berhasil menggaet predikat profesor pada usia 24 tahun.

Nelson memang punya modal meraih prestasi kemilau. Sebelum bertolak ke Amerika, lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan 1995 ini lolos menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Sukses ini membuat dirinya mendapat tawaran beasiswa dari Bohn's Scholarships untuk kuliah di jurusan matematika terapan, teknik elektro, dan fisika di Universitas Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.

Masuk kampus September 1995, laki-laki berdarah Tionghoa ini menyandang gelar bachelor of science hanya dalam tempo dua tahun lebih sembilan bulan. Predikatnya pun summa cum laude. Setelah merampungkan S-1-nya pada 1998, ia kebanjiran tawaran beasiswa dari perbagai perguruan tinggi top di Amerika. Meski ada tawaran dari universitas yang peringkatnya lebih tinggi, ia memilih tetap tinggal di Universitas Wisconsin dan meraih gelar doktor pada Mei 2003.

Selama menggarap program doktornya, Nelson terus mengukir prestasi. Berbagai penghargaan dikoleksinya, antara lain WARF Graduate University Fellowships dan Graduate Dissertator Travel Funding Award. Bahkan, penelitan doktornya di bidang photonics, optoelectronics, dan semiconductor nanostructires meraih penghargaan tertinggi di departemennya, yakni The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award.

Setelah menyandang gelar doktor, Nelson mendapat tawaran menjadi asisten profesor dari berbagai penjuru universitas di Amerika. Peluang menggiurkan ini menjauhkan minatnya untuk kembali ke Tanah Air. Akhirnya, penulis lebih dari 50 jurnal itu mendamparkan diri di Universitas Lehigh, pada Juli lalu, dan ia menyandang gelar asisten profesor.

Bagi pemilik tiga hak paten ini, banyak alasan yang membuatnya tak beranjak dari negeri yang sangat paranoid terhadap terorisme itu. Satu di antaranya karena Amerika merupakan salah satu dari segelintir negara yag kuat bidang teknik dan sainsnya. Sebagai pengajar, Nelson bisa sesuka hati memanfaatkan fasilitas laboratorium yang lengkap, mengakses informasi dari perangkat berteknologi canggih, dan melahap buku-buku terbaru di perpustakaan. Belum lagi kesempatan melakukan penelitian yang luas dengan dana tak terbatas.

Memang, hidup nun jauh di rantau harus memendam rindu pada keluarga, teman, dan makanan khas Indonesia. Namun, kerinduan itu terobati dengan gaji yang cukup. Apalagi bila bekerja di universitas swasta ternama seperti tempat Nelson bekerja. Ia memang tak mau menyebut angkanya. Tapi, sebagai gambaran, kata Nelson, rata-rata US$ 10.000 per bulan plus fasilitas kesehatan. "Jumlah ini cukup kompetitif dengan gaji yang ditawarkan dunia industri," kata ilmuwan muda yang rajin memberi ceramah di berbagai universitas di Amerika dan Eropa ini.

Walau kantongnya penuh, Nelson, anggota Pusat Teknologi Optik Universitas Lehigh ini, tak bisa meredam rasa ingin pulang ke Tanah Air. Tapi, masalahnya, seperti kata Nelson kepada Rini Anggraini dari GATRA , "Apakah bangsa Indonesia bisa melihat dan menghargai teknologi canggih." Ahli semikonduktor untuk serat optik ini mengaku akan mempertimbangkan dengan serius kalau pemerintah sungguh-sungguh membutuhkannya.

Sumber : Gatra (10 Oktober 2003)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 7 Maret 2004

 

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI